Selasa, 12 Oktober 2010 - 12:05:13 WIB
Diposting oleh : Administrator di Dunia IT - Dibaca: 934 kali

Jakarta - Indonesia kekurangan sumber daya manusia di
bidang IT, menurut pengamatan Prof Dr. Richardus Eko Indrajit, Ketua
Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer. Mari kita cermati
lebih dalam dasar pengamatan tersebut dan solusi yang ditawarkan.
Indrajit
menyebutkan,
teknologi baru lahir setiap 6 menit sehingga diperlukan banyak SDM
untuk menyikapinya. Entah dari mana angka tersebut diperoleh, tapi
teknologi memang bermunculan begitu deras. Dalam hal bahasa pemrograman
saja, 15 tahun lalu jumlahnya bisa dihitung dengan jari misalnya: Java,
C, C++, dan lainnya.
Tapi kurang dari satu dekade belakangan ini
telah menjamur begitu banyak bahasa pemrograman dan framework baru,
baik yang menjadi solusi problem-problem spesifik seperti: Ruby(Web),
Spring(Enterprise); atau yang menyajikan paradigma baru seperti: Scala
(functional programming) yang menggantikan paradigma saat ini yang
berorientasi obyek (object oriented programming).
Namun cepatnya
'kelahiran' diiringi juga dengan cepatnya 'kematian' sebagian besar
teknologi tersebut. Teknologi akan mati ketika dunia industri tidak
mengadopsinya. Seperti baru-baru ini lahir JavaFX skrip, sebuah
alternatif pengembangan GUI (Graphical User Interface) untuk platform
Java yang pemakaiannya lebih mudah dari SWING.
Sedikitnya
aplikasi industri yang menggunakan teknologi ini membuat Oracle akhirnya
menghentikan dukungan pengembangannya. Dalam menyikapi teknologi baru
praktisi IT tidak hanya harus mempelajarinya dengan cepat, tapi juga
harus bisa meyakinkan klien yang membayar aplikasi yang dibuat dengan
teknologi itu.
Jadi menurut saya kuncinya disini bukanlah
kuantitas sumber daya, tetapi kesiapan sumber daya itu untuk memilih,
menyerap dan mengaplikasikan teknologi yang datang dan pergi. Kuantitas
teknologi tidak harus dijawab dengan kuantitas SDM.
Indrajit
juga menyatakan IT belum memiliki standar keprofesian seperti dalam
dunia medis. Para praktisi IT yang tergabung dalam komunitas Agile
Alliance (agilealliance.org) juga menyatakan hal senada. Mereka berusaha
menjawab persoalan kenapa begitu banyak proyek IT gagal, baik gagal
dalam produksi maupun gagal mencapai suatu standar kualitas.
Meski
sudah menggunkan prinsip yang telah sukses diterapkan dalam dunia
manufaktur perangkat keras (hardware). Komunitas ini merumuskan
pendekatan baru yang menfokuskan pada aspek 'lunak' dari software.
Software
tidak berhenti berubah sesudah selesainya proses produksi, kode akan
terus berevolusi seiring perubahan tuntutan bisnis. Kualitas suatu
proyek pada akhirnya juga ditentukan oleh kualitas kode yang ditulis.
Kode
yang berkualitas adalah yang mudah dipahami dan dikembangkan. Kesadaran
ini melahirkan berbagai ranah baru yang mendorong penulisan kode
berkualitas, seperti: Design Patterns, Refactoring dan sebagainya.
Sumber lain menyebutkan, setiap 199 dari 200
pelamar kerja pemrograman ternyata tidak bisa menulis program. Sebagian
pelamar bahkan memiliki gelar S2 dan S3. Inilah isu yang diangkat oleh
sebuah gerakan bernama Software Craftmanship, sebuah pendekatan yang
menitikberatkan kemampuan programmer dalam menulis kode program.
Aspek
'lunak' dari software membuat penggiat Software Craftmanship menggali
inspirasi dari aspek-aspek kreatif di dunia musik dan beladiri. Sebagai
contoh, musisi tidak cukup hanya belajar teori musik, tapi dia juga
harus berlatih berulang kali dengan instrumen yang ingin dikuasainya.
Contoh
lain seorang karateka harus berlatih jurus secara berulang-ulang untuk
membiasakan diri dengan suatu teknik. Sayangnya praktisi IT masih harus
langsung terjun ke arena dengan hanya berbekal pemahaman teoretik yang
didapat dari aktifitas belajar, tanpa cukup bekal kefasihan yang didapat
dari aktifitas berlatih.
Coding Kata, sebuah situs yang
beralamatkan di www.codekata.pragprog.com, berusaha mengisi kekosongan
aspek latihan tersebut. Coding Kata biasanya berupa sebuah problem
pemrograman yang sudah dikenal dan sudah dipakai untuk latihan secara
individu atau kelompok.
Karena problem dan solusinya sudah
diketahui, programer bisa melatih aspek-aspek lain seperti penguasaan
tools, kualitas kode, prinsip-prinsip desain dan sebagainya. Selain itu
mulai merebak pula Coding Dojo, yaitu suatu forum pertemuan para
programmer untuk berlatih bersama. Forum pertemuan ini melibatkan
peserta secara aktif, ketimbang hanya mendengarkan ceramah secara pasif.
Alangkah
baiknya bila aspek latihan tersebut juga disadari dan diadopsi oleh
kalangan pendidik dalam menyiapkan strategi pengembangan SDM. Tidak
cukup hanya memberikan teori, dan membiarkan mahasiswa berlatih dengan
caranya sendiri. Latihan perlu diarahkan, baik dari segi output nya
maupun segi prosesnya.
Lulusan yang kuat dalam segi teoretik dan
terampil dalam segi praktis akan lebih cepat produktif dalam menjawab
tantangan yang dipaparkan Indrajit sebelumnya. Fokus untuk meningkatkan
kuantitas SDM IT di Indonesia selayaknya dibarengi juga dengan fokus
untuk meningkatkan kualitas baik secara individu maupun secara kolektif
di kalangan seprofesi.
Sumber : detikinet.com
Berita Terkait
- Smkitsi.com versi 2.0
- SMK gelar acara silaturahim dan sarasehan dengan warga Rt.04
- Motto: Islami
- Motto: Terampil
- Motto: Mandiri
0 Komentar :
Isi Komentar :









Pengunjung hari ini
Total pengunjung
Pengunjung Online