img3 img3 img3
Sekolah gratis, penyambung mimpi anak tak mampu...
Kamis, 28 Januari 2010 - 10:15:37 WIB
Diposting oleh : Administrator di Berita - Dibaca: 1107 kali

Suasana mendung bergerimis masih menghiasi langit, ketika Espos bertandang ke SMK Smart Informatika, Kamis (22/1).

Namun kegiatan belajar dan mengajar di dua ruang kelas telah menghangat. Beberapa siswi membuka Alquran dan membacanya dengan pelan. Beberapa di antaranya berdiskusi sembari menghadap seperangkat komputer.

Begitulah sekelumit suasana yang tergambar di sekolah gratis Yayasan Solopeduli. Siswa yang belajar di sekolah ini sebagian besar adalah anak tak mampu, orangtua mereka bekerja sebagai buruh bangunan dan beberapa di antaranya merupakan pengangguran. Meskipun berasal dari keluarga kurang beruntung namun hal tersebut tak membuat mereka patah arang. Keinginan menyerap ilmu mereka pun terus membuncah.

Salah seorang siswi, Tika Anggun Kurniawati, 15, mengatakan, mimpinya seketika pupus, saat dinyatakan lulus seleksi awal di SMK favorit di kota Solo, tetapi tak ada biaya untuk uang pangkal. Pihak sekolah tak memberikan kesempatan dan peluang mendapatkan pendidikan secara gratis. ”Saya sudah masuk seleksi awal, tapi ketika tahu biayanya tinggi, orang tua tak sanggup memenuhi,” kenang Tika.

Meskipun tak dapat bersekolah di SMK favorit, Tika mengaku berbesar hati karena masih mengantongi tiket beasiswa dari SMK Smart. Untuk belajar ilmu komputer, dia tak dibebani iuran sepeserpun. Berbekal satu setel seragam putih abu-abu dia pun dapat bersekolah.

”Saya senang tak jadi putus sekolah, disini saya belajar sesuai keinginan saya yakni ilmu komputer,” papar Tika yang juga berdagang nasi bungkus untuk memenuhi kebutuhan uang sakunya.

Pengalaman terbentur biaya sekolah tak hanya dialami Tika, Khoirudin, 15 mengalami hal serupa. Sejak lulus SMP, dirinya berkeinginan untuk melanjutkan ke sekolah kejuruan, dengan asumsi, setelah lulus, dapat langsung bekerja. ”Ternyata untuk bekerja tak perlu menunggu lulus. Dengan modal minim, saya sudah bisa berdagang,” aku Khoirudin.

Ruang kelas yang digunakan merupakan bekas SD Gremet 1, Manahan, Banjarsari. Menurut Kepala SMK Smart Information, Imam Masarun, ada 25 siswa putra dan 25 siswa putri yang belajar pada tahun pertama. Mereka mendapatkan fokus belajar ilmu komputer baik software maupun hardware. Selain kegiatan belajar itu, sambung dia, mereka juga mendapatkan pendidikan Bahasa Arab dan spiritual building.

Seperti layaknya SMK Smart, rencana kebijakan Walikota Solo, untuk mengupayakan sekolah gratis, menjadi angin segar bagi siswa tak mampu. Realisasi bebas biaya investasi dan operasional digadang-dagang dapat memupus angka anak putus sekolah. Namun, benarkah nanti program tersebut bisa disebut gratis di mata masyarakat? Semuanya masih menanti, konsep dan hasilnya nanti. - Oleh : Dina Ananti Sawitri Setyani

Sumber: Solopos




Berita Terkait

 

0 Komentar :

 

Isi Komentar :
Nama
Website
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)